Dari kitab «Hayatus Sahabah»

Kenali Sahabat Rasul Anda

Semoga Allah meridai mereka semua

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴾

Surah Al-Anfal: 74

Metode Membaca

Sirah adalah Pilihan

Kami membaca peristiwa untuk memahami pilihan yang diambil oleh Sahabat, dan apa yang diungkapkan oleh pilihan tersebut tentang iman dan akhlak.

Riwayat adalah Amanah

Riwayat disajikan dengan menyebutkan referensi dan derajat editorialnya, serta membedakan antara riwayat asli dan penceritaan kembali yang disederhanakan.

Ilmu sebagai Teladan

Tujuannya adalah agar Sirah mendekatkan makna kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang ke dalam kehidupan pembaca, bukan sekadar menjadi sejarah yang jauh.

Mengenal para sahabat (semoga Allah meridai mereka) bukan sekadar mengumpulkan nama dan tanggal; melainkan sebuah upaya mendekatkan diri kepada generasi yang menerima wahyu dari Rasulullah ﷺ, dan mengubah iman menjadi kehidupan nyata yang terlihat dalam kejujuran, pengorbanan, keteguhan, dan kasih sayang.

Kitab «Hayatus Sahabah» menyajikan kisah-kisah mereka dalam tiga jilid: mulai dari dakwah, baiat, hijrah, pertolongan, dan jihad, hingga persatuan, infak, perjuangan melawan hawa nafsu, dan akhlak, kemudian iman, ibadah, ilmu, zikir, doa, khotbah, nasihat, serta pertolongan Allah. Dari metodologi inilah halaman ini bermula: kita mengenal para pria dan wanita melalui peristiwa-peristiwa yang membentuk perjalanan hidup mereka.

Ini adalah sejarah orang-orang yang ketika seruan Islam datang kepada mereka, mereka beriman dan membenarkannya dengan hati mereka. Tidak ada perkataan mereka saat diseru kepada Allah dan Rasul-Nya melainkan: ﴿Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman (yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu', maka kami pun beriman﴾.

Dari pengantar kitab «Hayatus Sahabah» — Jilid Pertama

Kisah dan Peristiwa Pilihan

35 kisah yang disarikan dari tiga jilid, diceritakan kembali dengan bahasa yang mudah dipahami dengan tetap mencantumkan referensi dan derajat riwayat pada setiap kisah.

Altruisme

Kisah-kisah di mana para Sahabat mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri, menjadikan kebaikan bagi sesama sebagai pilihan nyata.

Kisah ke-13 — Jilid Pertama — Altruisme

Setengah harta tidak harus diambil

Abdurrahman bin Auf dan Sa'ad bin ar-Rabi' radhiyallahu 'anhuma

Ketika Nabi ﷺ mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, beliau mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa'ad bin ar-Rabi'. Sa'ad menawarkan kepada saudaranya yang Muhajir untuk membagi hartanya, dan dia menyebutkan bahwa dia adalah salah satu Anshar yang paling kaya. Dia juga menawarkan untuk menceraikan salah satu dari dua istrinya agar Abdurrahman dapat menikahinya setelah masa iddahnya berakhir. Tawaran itu adalah bukti altruisme sejati, bukan sekadar basa-basi; dia ingin menghilangkan perasaan asing dan kebutuhan saudaranya akibat hijrah. Namun, Abdurrahman berterima kasih kepadanya dan mendoakan keberkahan bagi keluarga dan hartanya, kemudian dia bertanya tentang pasar untuk bekerja dan mencari nafkah, lalu dia ditunjukkan ke pasar Bani Qainuqa'. Kisah ini menggabungkan kemurahan hati tuan rumah dan harga diri pendatang: orang Anshar memberikan apa yang dia cintai, dan orang Muhajir tidak menjadikan kemurahan hati saudaranya sebagai pengganti usaha.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Altruisme membuka pintu bantuan, dan martabat menggunakannya untuk membangun kemampuan mandiri daripada melanggengkan kebutuhan.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu

    Termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan salah satu Muhajirin pertama. Dikenal karena perniagaan dan kedermawanannya, serta merupakan salah satu dari enam anggota Dewan Syura.

  • Sa'ad bin ar-Rabi' radhiyallahu 'anhu

    Salah satu pemimpin Anshar dari suku Khazraj, Nabi ﷺ mempersaudarakannya dengan Abdurrahman bin Auf. Ia gugur syahid pada hari Uhud.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat as-Sahabah, Jilid Pertama, hlm. 459, Bab al-Mu'akhah

Atribusi: Shahih al-Bukhari dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-17 — Jilid Kedua — Altruisme

Makanan Tamu di Rumah yang Lapar

Seorang pria dari kaum Anshar dan istrinya radhiyallahu 'anhuma

Seorang pria datang kepada Nabi ﷺ mengeluhkan rasa lapar, namun Nabi ﷺ tidak menemukan makanan di rumah-rumahnya. Beliau bersabda: 'Siapa yang mau menjamu orang ini malam ini, semoga Allah merahmatinya?' Maka seorang pria Anshar berdiri dan membawanya ke keluarganya. Mereka hanya memiliki makanan yang cukup untuk anak-anak mereka, lalu pasangan itu sepakat untuk menidurkan anak-anak dan menyajikan makanan mereka kepada tamu. Sang istri mematikan lampu seolah-olah sedang memperbaikinya agar tamu mengira mereka ikut makan bersamanya. Mereka bermalam dalam keadaan lapar dan membiarkan tamu itu kenyang. Di pagi hari, Nabi ﷺ memberi tahu mereka bahwa Allah kagum dengan perbuatan mereka, dan turunlah ayat tentang perbuatan semacam ini: ﴿Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan﴾. Riwayat yang sahih tidak menyebutkan nama mereka, oleh karena itu kisah ini tidak dinisbatkan kepada orang tertentu.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Altruisme tidak membutuhkan kelimpahan; ia muncul saat kita menjaga martabat orang yang membutuhkan, bahkan ketika kita sendiri merasakan kekurangan.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Pasangan Anshar radhiyallahu 'anhuma

    Seorang sahabat Anshar dan istrinya yang menjamu tamu Rasulullah ﷺ dengan menyuguhkan makanan anak-anak mereka dan mereka sendiri bermalam dalam keadaan lapar. Riwayat yang sahih tidak menyebutkan nama mereka, sehingga cukup dengan mengenali tindakan mereka tanpa memastikan nama tertentu.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 2, hal. 412–413, Bab Al-Ithar

Atribusi: Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Catatan: Riwayat yang sahih tidak menyebutkan nama tuan rumah dan istrinya; oleh karena itu kami menghindari menghubungkannya dengan Abu Talhah atau Ummu Sulaim, meskipun nama-nama tersebut muncul dalam beberapa jalur periwayatan.

Kisah ke-22 — Jilid Ketiga — Altruisme

Kami Tidak Lebih Tinggi dari Rasulullah ﷺ

Abu Ayyub dan Ummu Ayyub Al-Anshari, semoga Allah meridhai mereka

Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau tinggal di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Pada awalnya, beliau memilih lantai dasar agar lebih mudah bagi para pengunjung. Ketika Abu Ayyub dan Ummu Ayyub tidur di lantai atas, mereka merasa tidak nyaman berada di atas Rasulullah ﷺ. Mereka pun tetap berada di satu sisi ruangan. Kemudian, sebuah wadah air jatuh dari mereka, dan mereka segera mengeringkannya karena khawatir air akan mencapai tempat beliau. Mereka menawarkan kepada beliau untuk pindah ke lantai atas, dan beliau pun pindah ketika banyak orang yang datang mengunjungi beliau. Kisah-kisah ini menyampaikan makna etika keramah-tamahan yang mengutamakan kenyamanan dan hak tamu di atas kenyamanan tuan rumah.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Menghormati tamu bukanlah sekadar penampilan sosial; ini adalah perhatian praktis terhadap kenyamanan dan haknya, bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Ayyub al-Ansari radhiyallahu 'anhu

    Khalid bin Zaid al-Ansari, Nabi ﷺ tinggal di rumahnya saat tiba di Madinah. Ia mengikuti berbagai peperangan dan terus berjihad hingga wafat dalam penaklukan Konstantinopel.

  • Umm Ayyub al-Anshariyah radhiyallahu 'anha

    Istri Abu Ayyub al-Ansari dan termasuk sahabat wanita, ia turut menyambut Nabi ﷺ di rumahnya saat hijrah. Namanya muncul dalam kisah-kisah penyambutan pertama Rasulullah ﷺ di Madinah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Shahabah, Jilid Tiga, hlm. 29–31, Bab Kecintaan kepada Nabi ﷺ

Atribusi: Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani, dan kebenaran tinggalnya beliau di rumah Abu Ayyub telah ditetapkan dalam hadis sahih

Status Redaksional: Asal usulnya sahih dan detailnya bervariasi

Catatan: Kebenaran tinggalnya Nabi ﷺ di rumah Abu Ayyub telah ditetapkan dalam hadis sahih, sedangkan detail mengenai tetap berada di satu sisi ruangan dan wadah air diriwayatkan dalam sumber-sumber sirah dan kamus dengan sanad yang perlu diwaspadai.

Kisah ke-27 — Jilid Pertama — Keberanian

Tangan yang Melindungi Rasulullah ﷺ

Talhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu

Pertempuran berkecamuk pada Perang Uhud dan posisi Rasulullah ﷺ terungkap. Talhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu tetap berada di dekat beliau, melindunginya dari bahaya hingga ia terluka. Telah disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa tangannya lumpuh atau terluka saat melindungi Nabi ﷺ, dan para sahabat memujinya atas apa yang dilakukannya pada hari itu. Adapun jumlah lukanya dan urutan setiap gerakan di medan perang diceritakan dalam berbagai riwayat; yang tetap adalah bahwa ia mengorbankan dirinya dan tangannya sebagai perisai pada saat yang sangat genting.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Keberanian bukanlah mencari bahaya, melainkan memberikan apa yang kita bisa untuk melindungi kehidupan yang dipercayakan kepada kita ketika pilihan menjadi terbatas.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dia menyaksikan Perang Uhud dan membela Nabi ﷺ di dalamnya, dan dia adalah salah satu dari enam anggota Syura.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat al-Sahabah, Jilid Pertama, Bab Ghazwah Uhud wa al-Difa' 'an Rasulillah ﷺ

Atribusi: Shahih Bukhari dari Qais bin Abi Hazim tentang luka tangan Talhah pada Perang Uhud

Status Redaksional: Sahih

Catatan: Kisah perlindungannya terhadap Nabi ﷺ dan luka di tangannya adalah sahih dalam Bukhari; adapun jumlah luka dan beberapa detail tentang bagaimana ia membawa Nabi ﷺ berbeda dalam riwayat sirah, sehingga tidak dijadikan satu adegan yang pasti.

Kisah ke-29 — Jilid Kedua — Kerendahan Hati

Pikullah Dosaku pada Hari Kiamat

Umar bin Khattab radhiyallahu anhu

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu anhu keluar pada malam hari untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Dia melihat api dan menemukan seorang wanita serta anak-anak menangis karena kelaparan. Wanita itu telah meletakkan panci berisi air untuk menenangkan mereka sampai mereka tertidur. Umar segera pergi ke gudang makanan, memanggul tepung dan lemak di punggungnya, dan menolak untuk dibantu oleh pelayannya. Kemudian dia memasak untuk anak-anak itu sampai mereka makan dan tertawa. Dia tidak menganggap jabatannya sebagai penghalang untuk membawa makanan dan menyiapkan hidangan; sebaliknya, dia melihat kelaparan keluarga itu sebagai tanggung jawab yang menuntut kehadirannya dan tindakannya.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kerendahan hati dalam tanggung jawab bukanlah penampilan lahiriah; itu adalah ketika Anda sendiri yang menanggung apa yang menghilangkan bahaya ketika sekadar memberi perintah tidak cukup.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat al-Sahabah, Jilid Kedua, Bab Menghibur Orang Miskin dan Memeriksa Rakyat

Atribusi: Akhbar Umar oleh Ibnu Sa'd, Abu Nu'aim, dan Al-Baihaqi dalam Dala'il al-Nubuwwah dengan sanad dan redaksi yang beragam

Status Redaksional: Sanadnya diperselisihkan

Catatan: Kisah ini terkenal dalam riwayat sejarah, tetapi jalur periwayatan dan detail redaksinya masih dalam penelitian dan bukan hadis marfu' dalam Shahihain; kisah ini dirumuskan berdasarkan kesamaan inti dari berita tentang Umar yang memeriksa rakyatnya dan membawa makanan.

Kerja Sama

Potret saling bantu antar Sahabat dalam menuntut ilmu, melayani umat, dan memikul tanggung jawab bersama.

Kisah ke-8 — Jilid Kedua — Tanggung Jawab Bersama

Tidak ada keputusan tanpa musyawarah

Umar bin Khattab dan Ahlus Syura radhiyallahu anhum

Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ditikam dan mengetahui bahwa lukanya mungkin akan menyebabkan kematian, ia bertanya kepada orang-orang tentang kekhalifahan, tetapi ia tidak mengubah masalah ini menjadi warisan atau memaksakan nama tertentu. Ia menunjuk enam sahabat senior, dan berkata bahwa Nabi ﷺ wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, dan menyerahkan pilihan di antara mereka. Ia memasukkan putranya, Abdullah, dalam musyawarah agar mereka dapat mengambil manfaat dari pendapatnya, kemudian ia menyatakan bahwa Abdullah tidak memiliki wewenang atau bagian dalam keputusan tersebut, agar kekerabatan khalifah tidak menjadi jalan menuju kekuasaan. Setelah wafatnya, Abdurrahman bin Auf mengambil alih tugas musyawarah, ia bertanya kepada orang-orang dan mempertimbangkan masalah ini dengan seksama hingga pilihan jatuh kepada Utsman radhiyallahu anhuma. Nilai dari situasi ini bukan hanya pada nama-nama keenam orang tersebut, tetapi pada kenyataan bahwa seorang pria yang mampu mempengaruhi menyerahkan mekanisme transisi lebih luas dari kehendak pribadinya, dan mempertahankan tanggung jawab keputusan pada Ahlus Syura.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Pemimpin yang bertanggung jawab membangun transisi tanggung jawab sehingga tidak bergantung pada pribadinya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

  • Enam Anggota Dewan Syura radhiyallahu 'anhum

    Mereka adalah Utsman, Ali, Talhah, az-Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf, yang ditunjuk oleh Umar untuk memilih khalifah di antara mereka. Mereka adalah sahabat senior yang wafatnya Nabi ﷺ dalam keadaan ridha terhadap mereka, sesuai dengan pernyataan Umar dalam riwayat tersebut.

  • Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma

    Seorang sahabat yang mulia dan putra Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Dia dikenal karena ketaatannya yang kuat terhadap sunah dan banyaknya riwayat, dan dia menghadiri musyawarah anggota Syura tanpa hak untuk menjadi khalifah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Sahabah, Jilid Kedua, hlm. 38–41, Bab Musyawarah

Atribusi: Sahih Al-Bukhari dari Amr bin Maimun dalam kisah pembunuhan Umar dan Syura

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-12 — Jilid Ketiga — Mencari Ilmu

Satu Hari untuknya dan Satu Hari untuk Tetangganya

Umar bin Khattab dan tetangganya dari Anshar radhiyallahu 'anhuma

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu tinggal di dataran tinggi Madinah, dan dia memiliki tetangga dari Anshar dari Bani Umayyah bin Zaid. Mereka berdua bergantian mengunjungi Rasulullah ﷺ. Salah satu dari mereka turun pada suatu hari untuk menghadiri majelis dan menerima wahyu, ilmu, dan berita dari Nabi ﷺ, kemudian kembali dan memberitahu temannya apa yang dia dengar. Yang lain turun pada hari berikutnya, sehingga pekerjaan dan mata pencarian mereka tidak menghalangi mereka untuk selalu dekat dengan sumber petunjuk. Masing-masing dari mereka tidak menunggu waktu luang penuh yang tidak akan datang, melainkan mereka mengatur waktu dan tanggung jawab di antara mereka, sehingga ilmu menjadi amanah yang dipertukarkan oleh kedua tetangga. Dalam riwayat ini, Umar menjelaskan cara praktis untuk belajar dan mengikuti perkembangan: kehadiran langsung ketika memungkinkan, kemudian penyampaian yang akurat kepada yang tidak hadir, dengan tetap menjaga hubungan dengan majelis Nabi.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Mencari ilmu tidak selalu membutuhkan waktu luang penuh; itu bisa diciptakan melalui kemitraan yang adil di mana orang-orang berbagi waktu dan pengetahuan.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Sahabah, Jilid Tiga, hlm. 502–503, bagian tentang giliran Umar dan tetangganya dari Anshar

Atribusi: Shahih Al-Bukhari dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-14 — Jilid Pertama — Kerja Sama

Bekal Hijrah dan Dua Ikat Pinggang

Asma radhiyallahu 'anha dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

Ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bersiap untuk hijrah, rumah Abu Bakar bukan sekadar tempat perpisahan, melainkan bagian dari jaringan kerja yang teliti. Asma binti Abu Bakar menyiapkan bekal perjalanan untuk mereka, dan ketika ia tidak menemukan tali untuk mengikat bekal tersebut, ia membelah ikat pinggangnya menjadi dua: satu untuk mengikat makanan dan satu lagi ia kenakan, sehingga ia dijuluki 'Dzatun Nithaqain' (Pemilik Dua Ikat Pinggang). Persiapannya bukanlah sekadar simbolis; ia menyelesaikan kebutuhan praktis dalam momen kerahasiaan dan kesiagaan, dan peran keluarga dalam mempersiapkan perjalanan ini dilakukan tanpa kegaduhan maupun keinginan untuk dipuji.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Pekerjaan besar membutuhkan tugas-tugas kecil yang dilakukan dengan sempurna; apa yang diselesaikan seseorang di rumahnya bisa menjadi bagian krusial bagi keberhasilan kelompok.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Asma binti Abi Bakr radhiyallahu 'anha

    Dzatun Nithaqain, termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam dan putri dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ia memiliki peran penting dalam persiapan Hijrah, serta meriwayatkan hadis dan berita dari Sirah.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 1, hal. 410–411, Bab Hijrah

Atribusi: Shahih Bukhari dari Asma radhiyallahu 'anha, dengan rincian dalam kitab-kitab Sirah

Status Redaksional: Shahih

Catatan: Kisah dasar penyiapan bekal dan gelar Dzatun Nithaqain tercatat dalam Shahih Bukhari; rincian mengenai pengejaran dan kunjungan diriwayatkan dalam kitab-kitab Sirah dengan sanad yang bervariasi.

Kisah ke-16 — Jilid Pertama — Kerja Sama

Pidato Kaum Muhajirin di Hadapan Najasyi

Ja'far bin Abi Thalib dan Ummu Salamah radhiyallahu 'anhuma

Ketika utusan Quraisy menyusul para muhajirin ke Habasyah untuk meminta mereka dipulangkan, Najasyi mengumpulkan para muhajirin dan bertanya tentang agama yang membuat mereka memisahkan diri dari kaumnya. Para muhajirin memilih Ja'far bin Abi Thalib untuk berbicara mewakili mereka. Ja'far menjelaskan keadaan mereka sebelum Islam dan apa yang diserukan oleh Nabi ﷺ seperti kejujuran, amanah, dan menyambung silaturahmi, kemudian ia membacakan awal surah Maryam. Najasyi dan orang-orang di sekitarnya pun terharu dan menolak untuk menyerahkan mereka. Keesokan harinya, kedua utusan itu mencoba mengangkat isu tentang Nabi Isa alaihis salam, lalu Ja'far menjelaskan apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ mengenainya, sehingga Najasyi semakin teguh melindungi mereka. Ummu Salamah, salah satu muhajirin, meriwayatkan peristiwa sirah ini sebagai keputusan kolektif di mana orang-orang memilih pembicara dengan tepat dan menjaga kejujuran sikap mereka.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kerja sama dalam krisis bukan berarti semua orang harus berbicara; melainkan memilih siapa yang dapat mewakili mereka dengan kejujuran dan pengetahuan.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

    Sepupu Nabi ﷺ dan saudara Ali, termasuk rombongan pertama yang berhijrah ke Habasyah. Ia gugur syahid sebagai panglima di Mu'tah, dan dijuluki Dzul Janahain oleh Nabi ﷺ.

  • Ummu Salamah radhiyallahu 'anha

    Hind binti Abi Umayyah, salah satu Ummul Mukminin dan termasuk wanita pertama yang berhijrah. Ia meriwayatkan banyak hadis, dan dikenal karena ketajaman pendapat serta pemahaman fikihnya.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 1, hal. 423–427, Bab Hijrah ke Habasyah

Atribusi: Ibnu Ishaq dari hadits Ummu Salamah radhiyallahu 'anha

Status Redaksional: Kisah Sirah

Catatan: Kisah sirah masyhur yang diriwayatkan melalui jalur Ummu Salamah dalam Ibnu Ishaq; tidak diperlakukan sebagai teks hadits dengan sanad yang sahih.

Kisah ke-21 — Jilid Ketiga — Kerja Sama

Pengumpulan Al-Qur'an: Keputusan, Peninjauan, dan Amanah

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu

Setelah sejumlah qari syahid dalam Pertempuran Yamamah, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu khawatir sebagian Al-Qur'an akan hilang seiring dengan wafatnya para penghafalnya. Oleh karena itu, ia menyarankan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu untuk mengumpulkannya. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu awalnya ragu karena ini adalah pekerjaan yang tidak dilakukan Nabi ﷺ dengan cara seperti itu, tetapi kemudian Allah melapangkan dadanya setelah peninjauan. Ia memanggil Zaid bin Tsabit, yang merupakan salah satu penulis wahyu, yang menganggap masalah ini sangat besar tetapi kemudian menerimanya. Ia mengumpulkan Al-Qur'an dari lembaran-lembaran, pelepah kurma, dan hafalan para pria dengan verifikasi yang cermat. Kisah ini menunjukkan bahwa pemeliharaan teks bukanlah improvisasi individu: Umar mengusulkan, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu menyetujui, dan Zaid melaksanakannya dengan metodologi pencegahan yang teliti.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Amanah bersama membutuhkan inisiatif, kemudian musyawarah, lalu tindakan metodis yang tidak hanya mengandalkan niat baik.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

  • Zayd bin Thabit radhiyallahu 'anhu

    Penulis wahyu dari kalangan Ansar, ikut serta dalam perang Khandaq dan setelahnya. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu menugaskannya untuk mengumpulkan Al-Qur'an, kemudian ia berperan dalam pengumpulan mushaf pada masa Utsman.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat Ash-Shahabah, Jilid Tiga, hlm. 81–82, Bab Hifzh Al-Qur'an

Atribusi: Shahih Bukhari dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-24 — Jilid Ketiga — Pelayanan

Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud

Rabiah bin Ka'b al-Aslami radhiyallahu 'anhu

Rabiah bin Ka'b al-Aslami radhiyallahu 'anhu biasa melayani Nabi ﷺ dan membawakan air wudu serta keperluan beliau. Suatu hari Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Mintalah," maka Rabiah memilih permintaan yang melampaui manfaat duniawi yang segera, dan berkata: "Aku memohon kepadamu agar bisa menemanimu di surga." Nabi ﷺ bertanya apakah ada permintaan lain, dan ketika dia menegaskan permintaannya, beliau bersabda: "Maka bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud." Riwayat ini tidak menyajikan pelayanan sebagai jalan untuk mencari muka atau hak istimewa gratis, melainkan menggambarkan hubungan pendidikan: pelayanan yang tulus, lalu permintaan yang tinggi, kemudian arahan menuju ibadah dan amal yang membantu seseorang mencapai tujuannya.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Guru yang jujur tidak hanya memberi harapan; ia menghubungkan cita-cita dengan amal yang mempersiapkan seseorang untuk mencapainya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami radhiyallahu 'anhu

    Sahabat dari kalangan Ahlu Shuffah, melayani Nabi ﷺ dan senantiasa mendampingi beliau. Ia meriwayatkan hadis tentang permintaannya untuk menemani Nabi ﷺ di surga.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 3, hal. 398–399, Bab Pelayanan kepada Nabi ﷺ

Atribusi: Sahih Muslim dari Rabiah bin Ka'b al-Aslami radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-25 — Jilid Pertama — Keberanian

Apakah kalian akan membunuh seorang pria karena dia berkata, 'Tuhanku adalah Allah'?

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

Ketika Rasulullah ﷺ sedang shalat di dekat Ka'bah, Uqbah bin Abi Mu'ith datang dan melilitkan kainnya di leher Nabi ﷺ, mencekiknya dengan keras. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu segera maju, mendorongnya menjauh dari Rasulullah ﷺ sambil berkata, "Apakah kalian akan membunuh seorang pria karena dia berkata, 'Tuhanku adalah Allah' padahal dia telah datang kepada kalian dengan bukti-bukti nyata dari Tuhan kalian?" Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu tidak menunggu bahaya berlalu atau bantuan datang; dia melihat agresi terjadi, lalu maju dengan tubuh dan perkataannya untuk melindungi Nabi ﷺ, dalam sebuah peristiwa yang dicatat oleh riwayat shahih sebagai bukti keberanian awalnya.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Keberanian moral adalah maju untuk menolak agresi ketika intervensi itu mahal, bukan hanya mengutuknya setelah bahaya berlalu.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat Ash-Shahabah, Jilid Pertama, Bab Menanggung Kesulitan dan Membela Rasulullah ﷺ

Atribusi: Shahih Al-Bukhari dari Urwah bin Az-Zubair dalam pertanyaan Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma

Status Redaksional: Shahih

Kisah ke-26 — Jilid Pertama — Keberanian

Malam Hijrah dan Pengembalian Amanah

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Kitab-kitab sirah meriwayatkan bahwa ketika kaum Quraisy mengepung rumah Nabi ﷺ pada malam Hijrah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tidur di ranjang beliau dan berselimutkan burdahnya, sementara Rasulullah ﷺ keluar menuju Madinah. Kemudian Ali tinggal di Mekah selama beberapa hari untuk mengembalikan amanah-amanah yang ada pada Nabi ﷺ kepada pemiliknya, meskipun sebagian pemiliknya adalah orang-orang yang memusuhi dan menyakiti beliau. Riwayat ini menggabungkan keberanian seorang pemuda yang membahayakan dirinya dengan amanah yang tidak gugur karena permusuhan pemilik hak.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Amanah tidak terbagi berdasarkan sikap orang terhadap kita; dan kesetiaan terlihat ketika kita menjaga hak orang yang berbeda pendapat dengan kita, padahal kita mampu meninggalkannya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu

    Sepupu Nabi ﷺ dan suami Fatimah radhiyallahu anha, salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Dia menyaksikan semua peristiwa kecuali Tabuk ketika Nabi ﷺ menunjuknya sebagai pengganti di Madinah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat Ash-Shahabah, Jilid Pertama, Bab Hijrah

Atribusi: Sirah Ibnu Ishaq dan riwayat-riwayat sirah tentang kisah malam Hijrah

Status Redaksional: Kisah Sirah

Catatan: Kisah Ali radhiyallahu 'anhu tidur di ranjang Nabi dan mengembalikan amanah adalah terkenal dalam kitab-kitab sirah, namun detail adegan dan sanadnya tidak setingkat hadits-hadits Shahihain; oleh karena itu, disajikan sebagai kisah sirah.

Kisah ke-28 — Jilid Pertama — Keberanian

Siapa yang akan pergi ke Bani Quraizhah?

Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu anhu

Pada hari Perang Khandaq, Nabi ﷺ membutuhkan seseorang untuk membawa berita tentang Bani Quraizhah. Beliau memanggil para sahabatnya seraya berkata, “Siapa yang akan pergi ke Bani Quraizhah?” Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu anhu mengajukan diri untuk tugas tersebut. Nabi ﷺ mengulangi seruan itu untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya, dan setiap kali Az-Zubairlah yang berkata, “Saya.” Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (pengikut setia), dan hawari-ku adalah Az-Zubair.” Tanggapan yang berulang ini menunjukkan inisiatif yang teguh, bukan sekadar semangat sesaat pada seruan pertama.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Keandalan tidak hanya terlihat dalam menerima tugas sekali saja, tetapi dalam kesiapan yang terus-menerus ketika kebutuhan masih ada.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu 'anhu

    Termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan salah satu Muslim pertama, ia adalah sepupu Nabi ﷺ. Ia mengikuti berbagai peperangan dan merupakan salah satu dari enam anggota Dewan Syura.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat al-Sahabah, Jilid Pertama, Bab al-Jihad wa al-Istithla'

Atribusi: Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-32 — Jilid Kedua — Kerendahan Hati

Aku Akan Mengutus Bersamamu Seorang yang Sangat Terpercaya

Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radhiyallahu anhu

Penduduk Najran meminta Nabi ﷺ untuk mengutus bersama mereka seorang yang terpercaya untuk mengajari mereka dan memutuskan perselisihan di antara mereka. Beliau berjanji akan mengutus seorang yang sangat terpercaya, sehingga para sahabat mendambakan kesaksian ini, bukan karena mencari kekuasaan, melainkan berharap salah satu dari mereka menjadi pemiliknya. Nabi ﷺ memilih Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu anhu dan bersabda: “Ini adalah orang terpercaya umat ini.” Abu Ubaidah menerima tugas itu dan melaksanakannya tanpa mengubah pujian menjadi kebanggaan atau keistimewaan pribadi.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kerendahan hati menjaga orang yang dipercaya dari kesombongan; ia melihat pujian sebagai tugas yang membutuhkan pekerjaan, bukan kedudukan yang membebaskannya dari tanggung jawab.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan Nabi ﷺ menamainya sebagai orang kepercayaan umat ini. Dia memimpin pasukan di Syam dan meninggal dalam wabah Amwas.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat as-Sahabah, Jilid Kedua, Bab Ba'ts ad-Du'at wal-Umana'

Atribusi: Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik dan Hudzaifah radhiyallahu anhuma

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-35 — Jilid Ketiga — Kebijaksanaan

Pedang Allah di Mu'tah

Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu

Nabi ﷺ memberitahu para sahabatnya di Madinah tentang apa yang terjadi di Mu'tah: Zaid bin Haritsah mengambil bendera lalu gugur sebagai syahid, kemudian Ja'far bin Abi Thalib lalu gugur sebagai syahid, kemudian Abdullah bin Rawahah lalu gugur sebagai syahid, sementara mata Nabi ﷺ berlinang air mata. Kemudian Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu mengambil bendera tanpa perintah sebelumnya, lalu Nabi ﷺ menggambarkannya sebagai pedang di antara pedang-pedang Allah, dan Allah memberikan kemenangan atau keselamatan melalui tangannya. Adapun rincian umum tentang perubahan posisi pasukan dan rencana penarikan diri disebutkan dalam kitab-kitab sirah, namun tidak semuanya terbukti dengan lafaz hadis sahih.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Pada saat runtuhnya tatanan yang biasa, suatu kelompok membutuhkan seseorang yang berani mengambil keputusan dan menjaga orang-orang dengan pengalaman dan ketenangannya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Khalid bin Al-Walid radhiyallahu anhu

    Seorang komandan sahabat yang masuk Islam sebelum penaklukan Mekah, dan Nabi ﷺ memberinya gelar pedang dari pedang-pedang Allah setelah Mu'tah. Dia berpartisipasi dalam perang Riddah dan penaklukan Irak dan Syam.

  • Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu

    Kekasih Rasulullah ﷺ dan budaknya yang dimerdekakan, dan salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam. Nabi ﷺ menunjuknya sebagai komandan pasukan Mu'tah, dan dia membawa bendera hingga syahid.

  • Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

    Sepupu Nabi ﷺ dan saudara Ali, termasuk rombongan pertama yang berhijrah ke Habasyah. Ia gugur syahid sebagai panglima di Mu'tah, dan dijuluki Dzul Janahain oleh Nabi ﷺ.

  • Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhu

    Seorang sahabat Anshar, salah satu penyair Nabi ﷺ dan pemimpin Baiat Aqabah. Beliau memegang panji kaum Muslimin di Mu'tah setelah syahidnya Zaid dan Ja'far, kemudian beliau sendiri syahid radhiyallahu 'anhu.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat al-Sahabah, Jilid Tiga, Bab Ghazwah Mu'tah dan Kepemimpinan

Atribusi: Sahih al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dalam kisah Mu'tah

Status Redaksional: Sahih

Catatan: Dalam Bukhari disebutkan bahwa Khalid mengambil bendera setelah para pemimpin gugur sebagai syahid dan ia dinamakan pedang di antara pedang-pedang Allah; adapun manuver-manuver rinci dan jumlah perubahan barisan berasal dari riwayat-riwayat sirah yang bervariasi.

Kedermawanan

Kisah tentang pemberian dari hal yang paling dicintai, yang disampaikan kepada sesama dengan penuh hikmah dan kasih sayang.

Kisah ke-6 — Jilid Kedua — Kedermawanan

Harta yang Paling Dicintainya

Abu Talhah al-Anshari radhiyallahu 'anhu

Abu Talhah radhiyallahu 'anhu memiliki sebuah kebun di Madinah bernama Bairuha, yang merupakan harta yang paling dicintainya. Kebun itu dekat dengan masjid, airnya segar untuk diminum, dan Rasulullah ﷺ sering memasukinya. Ketika turun firman Allah: ﴿Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai﴾, Abu Talhah tidak mencari harta sisa yang tidak ia sukai, melainkan pergi menemui Nabi ﷺ dan berkata bahwa harta yang paling ia cintai adalah Bairuha, dan ia menjadikannya sedekah yang ia harapkan kebaikan dan pahalanya di sisi Allah. Nabi ﷺ gembira dengan kedermawanan ini dan menyarankannya untuk memberikannya kepada kerabatnya. Abu Talhah pun mematuhinya, sehingga harta tersebut berubah dari milik pribadi yang dicintai menjadi manfaat yang menyambung silaturahmi dan melayani umat. Kisah ini mengajarkan bahwa sedekah bukan sekadar membuang apa yang berlebih, melainkan memilih apa yang berharga bagi diri sendiri, lalu memberikannya dengan bijak kepada yang paling berhak.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Nilai memberi tidak diukur dari besarnya saja, melainkan dari kedudukan apa yang kita lepaskan dan kebijaksanaan dalam penyampaiannya kepada orang lain.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Talhah al-Anshari radhiyallahu 'anhu

    Zaid bin Sahl al-Anshari dari Bani al-Najjar, termasuk ahli Badar dan Uhud. Dikenal karena kedermawanan dan jihadnya, serta Anas bin Malik meriwayatkan darinya.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 2, hlm. 407–408, Bab al-Infaq

Atribusi: Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Shahih

Kisah ke-15 — Jilid Pertama — Memberi

Beruntunglah Perniagaanmu, Wahai Abu Yahya

Suhayb ar-Rumi radhiyallahu 'anhu

Ketika Suhayb ar-Rumi radhiyallahu 'anhu ingin berhijrah ke Madinah, kaum Quraisy menghadangnya dan berkata bahwa ia datang ke Makkah dalam keadaan miskin lalu menjadi kaya di sana, sehingga mereka tidak akan membiarkannya pergi membawa diri dan hartanya. Suhayb menawarkan untuk menunjukkan lokasi hartanya agar mereka membiarkannya pergi, dan mereka setuju. Ia pun menunjukkan lokasinya lalu berangkat hijrah menemui Nabi ﷺ. Kitab-kitab sirah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ menyambutnya dengan bersabda: «Beruntunglah perniagaanmu, wahai Abu Yahya», dan turunlah ayat mengenai pengorbanan jiwa dan harta demi mencari keridaan Allah. Maksud dari kisah ini bukanlah untuk mengagungkan kemiskinan, melainkan untuk menunjukkan bahwa Suhayb menjadikan kebebasan berhijrah dan beriman lebih utama daripada harta yang bisa dicari kembali.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Memberi bukan selalu tentang apa yang kita berikan dari kelebihan kita; terkadang itu adalah pilihan sadar tentang apa yang tidak kita biarkan harta menghalangi kita darinya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Suhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu

    Termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam dan ikut berhijrah ke Madinah. Dikenal karena keteguhan dan kedermawanannya, serta ditunjuk oleh Umar untuk mengimami salat setelah beliau terluka.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 1, hal. 436, Bab Hijrah

Atribusi: Al-Bayhaqi dan kitab-kitab Sirah mengenai kisah hijrah Suhayb

Status Redaksional: Kisah Sirah

Catatan: Terdapat variasi dalam sanad redaksi kisah dan sebab turunnya ayat; namun makna tentang Suhayb yang meninggalkan hartanya demi hijrah sangat masyhur dalam sumber-sumber sirah dan targhib.

Kisah ke-18 — Jilid Kedua — Kedermawanan

Pohon Kurma di Surga dan Kebun di Dunia

Abu ad-Dahdah dan Ummu ad-Dahdah radhiyallahu 'anhuma

Riwayat-riwayat targhib menyebutkan bahwa seorang pria memiliki pohon kurma yang mengganggu tetangganya, lalu Nabi ﷺ menawarkan kepadanya sebuah pohon kurma di surga sebagai ganti jika ia melepaskannya, namun ia menolak. Ketika kabar itu sampai kepada Abu ad-Dahdah, ia membeli pohon itu dari pemiliknya dengan bayaran kebunnya, lalu memberikannya kepada orang yang membutuhkan. Ia kembali ke rumahnya dan memanggil istrinya untuk keluar dari kebun karena ia telah meminjamkannya kepada Allah. Beberapa riwayat menggambarkan jawaban Ummu ad-Dahdah dengan kegembiraan dan persetujuan. Maksud dari kisah ini adalah menonjolkan kecepatan respons Abu ad-Dahdah, dan bahwa sebuah keluarga yang berbagi makna pengorbanan dapat mengubah harta yang dicintai menjadi manfaat dan rahmat.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Ketika anggota keluarga sepakat pada suatu tujuan, memberi bukanlah kerugian individu melainkan keputusan yang membangun makna bersama.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu al-Dahdah al-Ansari radhiyallahu 'anhu

    Sahabat Ansar yang terkenal dengan kedermawanan dan infaknya di jalan Allah. Kisah kebunnya disebutkan dalam riwayat-riwayat targhib dengan redaksi dan detail yang bervariasi.

  • Umm al-Dahdah radhiyallahu 'anha

    Sahabat wanita dari kalangan Ansar, disebutkan dalam beberapa riwayat kisah kebun Abu al-Dahdah dan persetujuannya untuk berinfak. Namanya tidak dipastikan dalam semua jalur periwayatan.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 2, hal. 413–414, Bab Al-Infaq

Atribusi: Musnad Ahmad dan Al-Mustadrak karya Al-Hakim dalam kisah Abu ad-Dahdah

Status Redaksional: Dasar yang tetap dengan rincian yang bervariasi

Catatan: Kisah ini diriwayatkan dengan redaksi dan rincian yang berbeda, serta terdapat perbedaan dalam penyebutan nama istri dan ucapannya; oleh karena itu, kisah ini disusun di sini berdasarkan makna yang masyhur.

Kisah ke-19 — Jilid Kedua — Kedermawanan

Mempersiapkan Pasukan Kesulitan

Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu

Dalam Perang Tabuk, saat orang-orang sedang dalam kesulitan harta dan perbekalan, Nabi ﷺ menyerukan untuk mempersiapkan pasukan. Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu maju dengan sumbangan besar untuk mempersiapkan Pasukan Kesulitan (Jaisyul Usrah). Riwayat menyebutkan jumlah unta dan dinar yang berbeda-beda, namun semuanya sepakat akan besarnya infak beliau dan pujian Nabi ﷺ kepadanya. Kedermawanan di sini bukan sekadar pemberian harta yang terpisah dari realitas, melainkan pemenuhan kebutuhan pasukan yang bersiap untuk perjalanan jauh dalam kondisi sulit. Oleh karena itu, kisah ini tetap menjadi teladan bahwa pemilik kekayaan dapat mengubah kemampuannya menjadi tanggung jawab publik saat dibutuhkan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kekayaan memperoleh makna moralnya ketika, di masa sulit, ia berubah menjadi kemampuan praktis yang meringankan beban masyarakat.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu

    Khalifah Rasyidin ketiga dan termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, dijuluki Dzun Nurain karena menikahi dua putri Nabi ﷺ. Ia mempersiapkan pasukan Jaisyul Usrah dan menyatukan umat pada satu mushaf di masa kekhalifahannya.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 2, hal. 418, Bab Infak

Atribusi: At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim dalam Manaqib Utsman dan Persiapan Pasukan Kesulitan

Status Redaksional: Hasan

Catatan: Riwayat-riwayat berbeda mengenai jumlah yang dipersiapkan Utsman dan redaksi pujiannya; namun yang pasti secara garis besar adalah besarnya pengorbanan beliau dalam mempersiapkan Pasukan Kesulitan.

Kisah ke-20 — Jilid Kedua — Kedermawanan

Antara Setengah Harta dan Seluruhnya

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

Umar radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa suatu hari ia diperintahkan untuk bersedekah, dan saat itu ia sedang memiliki harta. Ia berkata dalam hati bahwa ia akan melampaui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu jika ia bisa melampauinya suatu hari nanti. Ia membawa setengah hartanya, lalu Nabi ﷺ bertanya: 'Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?' Ia menjawab: 'Sebanyak itu pula.' Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu datang dengan membawa seluruh hartanya. Ketika ditanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab: 'Aku menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.' Umar berkata bahwa saat itu ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa melampaui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dalam hal apa pun. Riwayat ini menyajikan kompetisi dalam kebaikan tanpa permusuhan, namun tidak menjadikannya aturan perhitungan umum; karena setiap orang memiliki kewajiban nafkah dan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Persaingan yang terpuji mendorong kepada kebaikan, namun tetap membutuhkan pemahaman akan tanggung jawab, bukan sekadar perbandingan semata.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 2, hal. 398, Bab Infak

Atribusi: Sunan Abu Dawud dan Jami' At-Tirmidzi dari Umar radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Hasan

Catatan: At-Tirmidzi menilai hadis ini Hasan, dan sebagian ulama membicarakan beberapa jalurnya; diriwayatkan mengenai keutamaan Ash-Shiddiq tanpa menjadikannya hukum umum untuk mengeluarkan seluruh harta.

Kisah ke-31 — Jilid Kedua — Kedermawanan

Kafilah yang Berubah Menjadi Sedekah

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu adalah salah satu pedagang paling sukses di Madinah. Kisah-kisah sirah menyebutkan bahwa sebuah kafilah besar miliknya tiba membawa makanan dan barang dagangan, lalu ia menyedekahkannya di jalan Allah ketika melihat kebutuhan orang-orang. Sumber-sumber biografi menceritakan gambaran lain tentang banyaknya sedekah dan bantuannya kepada kaum Muhajirin, ahli Badar, dan para Ummul Mukminin. Riwayat-riwayat berbeda mengenai jumlah unta dan dinar, sehingga tidak ada satu angka pasti; namun kumpulan berita menunjukkan bahwa ia tidak menjadikan kesuksesan berdagang sebagai tujuan yang tertutup, melainkan mengubah sebagian besar darinya menjadi manfaat yang melampaui dirinya kepada orang lain.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kedermawanan yang berkelanjutan tidak menunggu kelebihan yang tidak bernilai; melainkan menjadikan kesuksesan itu sendiri sebagai sumber yang disengaja untuk melayani orang lain.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu

    Termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan salah satu Muhajirin pertama. Dikenal karena perniagaan dan kedermawanannya, serta merupakan salah satu dari enam anggota Dewan Syura.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat as-Sahabah, Jilid Kedua, Bab Infaq fi Sabilillah wa Sadaqat Abdurrahman bin Auf

Atribusi: Musnad Ahmad, at-Tabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa'd, dan kitab-kitab biografi tentang berita infak Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu

Status Redaksional: Asal tetap dan detail bervariasi

Catatan: Banyaknya infak Abdurrahman radhiyallahu anhu terkenal dalam sumber-sumber biografi, namun jumlah kafilah, besaran sedekah, dan redaksi beberapa berita bervariasi; oleh karena itu, narasi tidak dibangun berdasarkan angka tertentu.

Nilai-Nilai Lainnya

Kumpulan kisah yang merangkum nilai keteguhan, kepemimpinan, kesabaran, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan para Sahabat radhiyallahu 'anhum.

Kisah ke-1 — Jilid Pertama — Dialog

Duduk dan Dengarkan Dulu

Mus'ab bin 'Umair, Usaid bin Hudhair, Sa'ad bin Mu'adz

Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu telah tiba di Madinah bersama As'ad bin Zurarah, menyeru orang-orang kepada Islam dan mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka yang telah masuk Islam. Kabar ini sampai kepada Usaid bin Hudhair, yang pada waktu itu adalah salah satu pemimpin kaumnya. Ia datang dengan marah, membawa tombaknya untuk menghentikan pertemuan ini. Mus'ab tidak memprovokasinya atau membalas ancamannya, melainkan dengan tenang berkata kepadanya: "Duduklah dan dengarkan. Jika engkau menyukai sesuatu, terimalah. Jika engkau membencinya, kami akan berhenti." Usaid meletakkan tombaknya dan duduk. Mus'ab membacakan Al-Qur'an kepadanya dan menjelaskan Islam. Wajahnya berubah, dan ia bertanya tentang cara masuk agama. Kemudian ia pergi kepada kaumnya dan menunjukkan Sa'ad bin Mu'adz ke pertemuan itu. Sa'ad pun datang, dan pertemuan itu berakhir dengan keislaman mereka berdua, membuka pintu yang luas bagi dakwah di Bani 'Abdul Asyhal.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Meyakinkan tidak dimulai dengan membungkam lawan, melainkan dengan memberinya rasa aman yang cukup agar ia dapat mendengar dan didengar.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Mus'ab bin Umayr radhiyallahu 'anhu

    Salah satu orang pertama yang masuk Islam, diutus oleh Nabi ﷺ ke Madinah sebelum Hijrah sebagai pengajar dan pendakwah. Keislaman sejumlah pemimpin Ansar di tangannya memiliki dampak besar dalam mempersiapkan Madinah.

  • As'ad bin Zurarah radhiyallahu 'anhu

    Salah satu kaum Ansar pertama yang masuk Islam dan salah satu pemimpin dalam Bai'at Aqabah. Mus'ab bin Umayr tinggal di rumahnya di Madinah sebelum Hijrah, dan ia wafat pada tahun pertama Hijriah sebelum Perang Badar.

  • Usayd bin Hudhair radhiyallahu 'anhu

    Salah satu pemimpin suku Aus dari Bani Abdul Asyhal, masuk Islam di tangan Mus'ab bin Umayr. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Nabi ﷺ, dan dikenal karena keutamaan serta keindahan bacaan Al-Qur'annya.

  • Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu

    Pemimpin suku Aus dan kepala Bani Abdul Asyhal, ia masuk Islam dan kaumnya pun mengikuti jejaknya pada tahap awal. Ia ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, serta wafat akibat luka-lukika yang dideritanya setelah Perang Khandaq.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Shahabah, Jilid Pertama, hlm. 219–220, Bab Ad-Da'wah

Atribusi: Sirah Ibnu Ishaq dari jalur 'Abdullah bin Abi Bakr dan lainnya

Status Redaksional: Kisah Sirah

Catatan: Kisah sirah yang terkenal; disajikan sebagai narasi sirah, bukan hadis marfu' yang sahih.

Kisah ke-2 — Jilid Pertama — Keteguhan

Perjalanan Setelah Setahun Perpisahan

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha

Ketika Abu Salamah radhiyallahu 'anhu bertekad untuk hijrah ke Madinah, Ummu Salamah pergi bersamanya. Namun, keluarganya menghalanginya untuk pergi dan mengembalikannya ke Mekah. Kemudian keluarga Abu Salamah datang dan merebut anaknya darinya, sehingga ia harus menghadapi perpisahan dengan suami, anak, dan tanah airnya. Setiap pagi ia pergi ke Al-Abthah, duduk dan menangis hingga sore, tidak memiliki apa-apa selain mengadukan keluhannya kepada Allah. Setelah sekitar setahun, seorang pria dari Bani-nya merasa kasihan kepadanya, dan meyakinkan kaumnya untuk melepaskannya. Kemudian keluarga Abu Salamah merasa kasihan dan mengembalikan anaknya kepadanya. Setelah itu, ia pergi sendirian bersama anaknya, lalu ia bertemu dengan 'Utsman bin Thalhah, yang mengantarnya dengan aman hingga ia bertemu suaminya di Madinah. Demikianlah, keteguhannya bukanlah sekadar kata-kata yang lewat, melainkan kesabaran yang panjang yang diikuti dengan tindakan hingga hijrahnya selesai.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Dalam kehilangan dan penundaan paksa, seseorang menjaga tujuannya dengan kesabaran, tindakan, dan menerima bantuan yang aman.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Ummu Salamah radhiyallahu 'anha

    Hind binti Abi Umayyah, salah satu Ummul Mukminin dan termasuk wanita pertama yang berhijrah. Ia meriwayatkan banyak hadis, dan dikenal karena ketajaman pendapat serta pemahaman fikihnya.

  • Abu Salamah bin Abdul Asad radhiyallahu 'anhu

    Salah satu orang pertama yang masuk Islam dan suami Ummu Salamah sebelum Nabi ﷺ. Ia berhijrah ke Habasyah kemudian ke Madinah, dan wafat karena luka-luka yang dideritanya dalam Perang Uhud.

  • Utsman bin Thalhah radhiyallahu 'anhu

    Berasal dari Bani Abdul Dar, masuk Islam sebelum Penaklukan Makkah dan berhijrah ke Madinah. Nabi ﷺ menetapkan kunci Ka'bah tetap berada di tangannya dan keturunan Bani Syaibah pada hari penaklukan tersebut.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Shahabah, Jilid Pertama, hlm. 434–435, Bab Al-Hijrah

Atribusi: Ibnu Ishaq dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha

Status Redaksional: Kisah Sirah

Kisah ke-3 — Jilid Pertama — Kebebasan Hati Nurani

Ahadun Ahad

Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

Bilal radhiyallahu 'anhu adalah orang yang tertindas di Makkah, disiksa oleh Umayyah bin Khalaf di tengah panas yang terik. Ia dibaringkan di atas pasir yang membara dan diletakkan batu besar di atas dadanya, sambil dipaksa untuk meninggalkan Islam. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak siksaan itu, namun ia memiliki kata-kata yang tidak bisa mereka rampas: «Ahadun Ahad». Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu lewat dan melihat seorang manusia disiksa karena imannya, lalu ia bernegosiasi dengan Umayyah untuk membelinya. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu tidak hanya berhenti pada kecaman, melainkan membayar uang dan membebaskan Bilal, kemudian memerdekakannya karena Allah. Setelah itu, Bilal menjadi muazin Rasulullah ﷺ, dan kata-kata yang ia ucapkan di bawah batu itu tetap menjadi saksi bahwa kelemahan fisik tidak berarti runtuhnya hati nurani.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kebebasan berkeyakinan dijaga dengan keteguhan menghadapi paksaan dan dengan dukungan mereka yang mampu terhadap orang-orang yang dizalimi.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu

    Salah satu orang pertama yang masuk Islam, disiksa di Makkah kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Nabi ﷺ memilihnya sebagai muazin, dan ia ikut serta dalam berbagai peperangan bersamanya.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 1, hlm. 347–348, Bab Menanggung Penderitaan

Atribusi: Riwayat Ibnu Ishaq dan Abu Nu'aim dalam al-Hilyah

Status Redaksional: Riwayat Sirah

Catatan: Jalur periwayatan beberapa detail kisah ini bervariasi; namun dasar cerita tentang penyiksaan Bilal, keteguhannya, dan pembebasannya oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah masyhur dan terbukti.

Kisah ke-4 — Jilid Pertama — Pelayanan Publik

Lelaki yang Tidak Sepantasnya Diusir

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan Ibnu ad-Dughunnah

Ketika gangguan kaum Quraisy semakin hebat, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu keluar hendak menuju tanah Habasyah, hingga sampai di Bark al-Ghimad. Di sana ia bertemu dengan Ibnu ad-Dughunnah yang bertanya tentang tujuannya. Ketika mengetahui bahwa ia diusir dari negerinya, Ibnu ad-Dughunnah berkata bahwa orang sepertinya tidak sepantasnya keluar dan tidak boleh diusir; karena ia membantu orang miskin, menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lemah, menjamu tamu, dan membantu dalam musibah kebenaran. Ia membawanya kembali ke Makkah di bawah perlindungannya, dan bersaksi tentang sifat-sifat ini di hadapan kaum Quraisy, sehingga mereka menerima Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu tinggal dalam jaminannya. Namun, mereka mensyaratkan agar ia tidak mengeraskan suaranya saat membaca Al-Qur'an dan shalat karena takut orang lain terpengaruh. Hingga akhirnya mereka merasa terganggu bahkan dengan perlindungan itu, maka Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memilih untuk mengembalikan jaminan Ibnu ad-Dughunnah dan terus beribadah kepada Tuhannya hanya dengan perlindungan Allah semata. Kisah ini mengungkapkan bagaimana reputasi publik dapat menjadi kesaksian bagi seseorang, dan bagaimana prinsip tetap lebih berharga daripada keamanan yang bersyarat.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Pertahanan terkuat bagi seseorang mungkin adalah jejak kebaikan yang ia tinggalkan dalam kehidupan sesamanya sebelum ia membutuhkan pembelaan mereka.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 1, hlm. 339–340, Bab Menanggung Penderitaan

Atribusi: Shahih Bukhari dari Aisyah radhiyallahu 'anha

Status Redaksional: Shahih

Kisah ke-5 — Jilid Kedua — Kepemimpinan di Masa Krisis

Saat Kesedihan Mengembalikan Manusia pada Kebenaran

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, berita itu sangat memukul para sahabat, bahkan Umar radhiyallahu 'anhu tidak percaya bahwa Nabi telah wafat dan berbicara kepada orang-orang dengan emosi kehilangan yang mendalam. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ, mencium kening beliau, dan berkata: "Engkau harum saat hidup maupun mati." Kemudian ia keluar menemui orang-orang tanpa mengabaikan kesedihan mereka, namun ia mengembalikan mereka pada dasar akidah. Ia membacakan firman Allah: ﴿Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul yang sebelumnya telah berlalu beberapa rasul﴾, lalu berkata: "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." Guncangan hebat itu mereda di hadapan kejelasan ayat tersebut, dan Umar berkata bahwa kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya saat mendengarnya. Pidato Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bukanlah pengingkaran terhadap cinta, melainkan perlindungan bagi tauhid dan kemampuan umat untuk menjalankan kewajiban setelah kehilangan yang paling besar.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kepemimpinan di saat kehilangan tidak mengingkari kesedihan; namun ia mencegah kesedihan menghalangi kebenaran dan kewajiban.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 2, hlm. 44–45, Bab Ijtima' al-Kalimah

Atribusi: Shahih al-Bukhari, dengan riwayat-riwayat shahih dari Aisyah dan Ibnu Abbas

Status Redaksional: Shahih

Kisah ke-7 — Jilid Kedua — Kerja dan Martabat

Biji kurma di atas kepalanya

Asma binti Abu Bakar radhiyallahu anha

Asma binti Abu Bakar radhiyallahu anha menceritakan sebagian dari awal kehidupan rumah tangganya dengan Az-Zubair radhiyallahu anhu; pada waktu itu ia tidak memiliki harta maupun budak kecuali kudanya. Ia memberi makan kuda, memberinya minum, memperbaiki embernya, menguleni adonan, dan menumbuk biji kurma untuk unta pengangkut air mereka, kemudian ia membawa biji kurma dari tanah Az-Zubair yang jauh di atas kepalanya. Suatu hari, ketika ia sedang dalam perjalanan pulang, Rasulullah ﷺ bertemu dengannya bersama beberapa sahabatnya. Beliau mengisyaratkan agar ia naik di belakangnya, namun ia merasa malu berjalan bersama para lelaki dan teringat akan kecemburuan Az-Zubair, maka ia terus membawa apa yang ada padanya. Asma tidak menceritakan kisah ini untuk menciptakan gambaran ideal yang bebas dari kesulitan, melainkan ia menggambarkan pekerjaan sebagaimana adanya: upaya harian di rumah dengan sumber daya terbatas, dengan rasa malu, martabat, dan kemampuan untuk menanggung tanggung jawab. Oleh karena itu, narasi ini memberi kita sisi sejarah keluarga yang tidak hanya muncul dalam berita pertempuran dan keputusan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Sejarah tidak hanya dibuat oleh para pemimpin mimbar; ia juga dibuat oleh pekerjaan harian yang sunyi yang membangun rumah tangga.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Asma binti Abi Bakr radhiyallahu 'anha

    Dzatun Nithaqain, termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam dan putri dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ia memiliki peran penting dalam persiapan Hijrah, serta meriwayatkan hadis dan berita dari Sirah.

  • Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu 'anhu

    Termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan salah satu Muslim pertama, ia adalah sepupu Nabi ﷺ. Ia mengikuti berbagai peperangan dan merupakan salah satu dari enam anggota Dewan Syura.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Sahabah, Jilid Kedua, hlm. 517–518, Bab Akhlak dan Pergaulan

Atribusi: Sahih Al-Bukhari dan Muslim dari Asma radhiyallahu anha

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-9 — Jilid Ketiga — Kerendahan hati dalam meninjau kembali

Tidak setiap penundaan adalah kekalahan

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

Di Hudaibiyah, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu melihat syarat-syarat perjanjian itu berat bagi kaum Muslimin. Keinginannya yang kuat untuk menjaga agama menguasainya, dan ia bertanya kepada Nabi ﷺ dengan jelas: "Bukankah kita di atas kebenaran? Bukankah mereka di atas kebatilan? Mengapa kita menerima kehinaan dalam agama kita?" Pertanyaannya bukanlah penolakan terhadap wahyu, tetapi ia ingin memahami bagaimana janji kemenangan dapat bertemu dengan konsesi yang tampak ini. Kemudian ia pergi kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan menanyakan pertanyaan yang sama. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: "Tetaplah bersamanya, karena ia di atas kebenaran." Umar kemudian meninjau kembali dirinya, bahkan ia mengatakan bahwa ia melakukan banyak amal karena takut akan dampak perkataannya. Kemudian Allah menunjukkan bahwa perjanjian itu adalah sebuah kemenangan, dan kaum Muslimin memasuki Mekah setelah itu dengan aman. Kisah ini mengajarkan orang beriman hak untuk bertanya, dan pada saat yang sama mengajarkan adab untuk kembali (menerima) ketika hikmahnya menjadi jelas.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Keberanian bukanlah tidak bertanya; melainkan bertanya dengan adab, kemudian meninjau kembali penilaian kita ketika gambaran yang lebih luas terungkap bagi kita.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat Ash-Shahabah, Jilid III, hlm. 19–20, Bab Iman kepada yang Gaib

Atribusi: Shahih Al-Bukhari dalam kisah Perjanjian Hudaibiyah

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-10 — Jilid Ketiga — Kesabaran yang aktif

Di balik momen sulit

Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu 'anhu

Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu 'anhu adalah salah satu orang pertama yang merasakan siksaan di Mekah. Ketika cobaan semakin berat, ia datang kepada Nabi ﷺ yang sedang bersandar pada selimutnya di bawah naungan Ka'bah, memohon doa dan pertolongan, dan bertanya: "Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?" Nabi ﷺ tidak mencelanya atas penderitaannya, melainkan mengingatkannya bahwa orang-orang beriman sebelum mereka disisir dengan sisir besi hingga ke tulang-tulang mereka, dan dibelah menjadi dua, namun hal itu tidak menghalangi mereka dari agama mereka. Kemudian beliau memberitahunya bahwa Allah akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang pengendara dari Sana'a ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala terhadap kambingnya, dan beliau mengatakan bahwa mereka terburu-buru. Dalam jawaban itu ada janji dan cakrawala, bukan penolakan terhadap siksaan atau pembenaran terhadap kezaliman; penantian di sini adalah kesabaran di jalan dengan tetap menjaga keyakinan dan amal, bukan menyerah pada kenyataan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Harapan tidak menolak rasa sakit yang segera, tetapi mencegah ketakutan untuk menguasai masa depan.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu 'anhu

    Termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam dan kaum tertindas yang disiksa di Makkah. Ia ikut serta dalam perang Badr dan setelahnya, serta meriwayatkan hadis-hadis.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat Ash-Shahabah, Jilid III, hlm. 11–12, Bab Keagungan Iman

Atribusi: Shahih Al-Bukhari dari Khabbab radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-11 — Jilid Ketiga — Ibadah

Berikan Setiap Haknya

Salman Al-Farisi dan Abu Darda radhiyallahu 'anhuma

Nabi ﷺ mempersaudarakan Salman Al-Farisi dan Abu Darda radhiyallahu 'anhuma. Suatu hari, Salman mengunjungi Abu Darda dan melihat Ummu Darda dalam pakaian yang lusuh. Dia bertanya tentang keadaannya, dan Ummu Darda menjawab bahwa Abu Darda tidak memiliki kebutuhan duniawi. Abu Darda menyiapkan makanan untuk tamunya dan berkata bahwa dia sedang berpuasa. Salman menolak makan sampai Abu Darda makan bersamanya, jadi Abu Darda berbuka puasa. Kemudian, ketika malam tiba, Abu Darda bangkit untuk shalat, tetapi Salman berkata kepadanya, "Tidurlah," maka dia tidur. Dia mencoba bangkit lagi, tetapi Salman menyuruhnya tidur, sampai akhir malam dia berkata kepadanya, "Bangunlah sekarang," lalu mereka berdua shalat. Kemudian Salman berkata kepadanya, "Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu; maka berikanlah setiap haknya." Ketika hal itu disebutkan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Salman berkata benar." Kisah ini tidak mengurangi pentingnya shalat malam, melainkan menempatkan ibadah dalam keseimbangan yang mencegah upaya keras berubah menjadi pengabaian hak tubuh dan keluarga.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Ibadah tidak dibangun di atas pengabaian tubuh atau keluarga; kesempurnaannya terletak pada keseimbangan yang menyatukan hak Allah dan hak manusia.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu

    Sahabat yang datang dari Persia untuk mencari kebenaran hingga bertemu Nabi ﷺ. Ia mengusulkan penggalian parit (Khandaq), dan dikenal karena ilmu serta kezuhudannya.

  • Abu al-Darda radhiyallahu 'anhu

    Uwaimir al-Ansari, termasuk sahabat Nabi ﷺ dan ahli ilmu serta ibadah. Ia tinggal di Syam pada masa kekhalifahan Umar dan Utsman untuk mengajar penduduk di sana.

  • Ummu Darda Khairah binti Abi Hadrad radhiyallahu anha

    Seorang sahabat wanita dan istri Abu Darda. Dia hidup pada masa Nabi ﷺ dan meriwayatkan darinya. Dia adalah Ummu Darda yang lebih tua, bukan Ummu Darda yang lebih muda, seorang tabi'in wanita yang terkenal dengan ilmunya.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat As-Sahabah, Jilid Tiga, hlm. 516–517, bagian yang terjadi antara Salman dan Abu Darda

Atribusi: Shahih Al-Bukhari dari Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sahih

Kisah ke-23 — Jilid Ketiga — Kebersihan Hati

Amal Tersembunyi: Hati Tanpa Kedengkian

Abdullah bin Amr bin al-Aas radhiyallahu 'anhuma dan seorang pria dari kaum Anshar

Dikisahkan bahwa Nabi ﷺ memberitahu para sahabatnya selama tiga hari berturut-turut bahwa seorang pria dari kaum Anshar akan muncul di hadapan mereka dan dia adalah penduduk surga. Abdullah bin Amr ingin mengetahui amalannya, maka ia meminta izin untuk menginap di rumahnya selama tiga malam. Ia tidak melihat amalan ibadah yang berlebihan selain bahwa pria itu tidak tidur sebelum berzikir kepada Allah. Ketika Abdullah memberitahukan alasan kedatangannya, pria itu berkata bahwa ia tidak menyimpan rasa dengki terhadap sesama Muslim dan tidak merasa iri atas karunia yang Allah berikan kepada mereka. Abdullah berkata: 'Inilah yang membuatmu mencapai derajat itu.' Kisah ini menyoroti amalan hati yang tersembunyi yang biasanya tidak terlihat oleh orang lain, meskipun status hadisnya tetap menjadi catatan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Akhlak yang tidak terlihat oleh orang lain, seperti meninggalkan rasa iri dan dengki, mungkin lebih berat bobotnya dalam pembentukan diri seseorang dibandingkan amal-amal yang mendapat tepuk tangan dari orang lain.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma

    Sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, dikenal karena ibadahnya dan penulisan hadis dengan izin Nabi ﷺ. Ia termasuk di antara fukaha dan ahli ilmu dari kalangan sahabat.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayatus Sahabah, Jilid 3, hal. 159–160, Bab Salamatus Sadr (Kebersihan Hati)

Atribusi: Musnad Ahmad dan As-Sunan al-Kubra karya an-Nasa'i, dari Anas radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Sanadnya diperselisihkan

Catatan: Beberapa ulama mensahihkan atau menghasankan sebagian jalurnya, namun terdapat pembicaraan (kritik) pada sanad-sanadnya; oleh karena itu, kisah ini disebutkan dalam fadhailul a'mal (keutamaan amal) dengan sikap hati-hati, dan pria Anshar tersebut tidak disebutkan namanya dalam riwayat.

Kisah ke-30 — Jilid Kedua — Kerendahan Hati

Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang para malaikat pun merasa malu kepadanya?

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu

Nabi ﷺ sedang berbaring di rumahnya dengan sebagian betis atau pahanya terlihat. Kemudian Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma meminta izin masuk, dan beliau mengizinkan mereka dalam keadaan yang sama. Ketika Utsman radhiyallahu anhu meminta izin, Rasulullah ﷺ duduk dan merapikan pakaiannya. Aisyah radhiyallahu anha bertanya tentang perbedaan sambutan beliau, lalu beliau bersabda, «Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang para malaikat pun merasa malu kepadanya?». Riwayat ini tidak menjadikan rasa malu sebagai sikap menarik diri atau kelemahan; sebaliknya, ia menetapkan bagi Utsman suatu sifat mulia yang diperhatikan oleh Nabi ﷺ kehadirannya.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Memperhatikan sifat-sifat mulia orang lain adalah salah satu bentuk persahabatan yang baik; karena rasa hormat memperhatikan kepekaan orang lain dan tidak mengolok-oloknya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu

    Khalifah Rasyidin ketiga dan termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, dijuluki Dzun Nurain karena menikahi dua putri Nabi ﷺ. Ia mempersiapkan pasukan Jaisyul Usrah dan menyatukan umat pada satu mushaf di masa kekhalifahannya.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

  • Aisyah binti Abi Bakar radhiyallahu anha

    Ummul Mukminin dan istri Nabi ﷺ serta putri Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu. Dia adalah salah satu sahabat wanita yang paling berilmu, dan dia meriwayatkan hadis tentang rasa malu Utsman dan petunjuk Nabi ﷺ lainnya.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat al-Sahabah, Jilid Kedua, Bab Keutamaan Utsman dan Rasa Malunya

Atribusi: Shahih Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha

Status Redaksional: Shahih

Kisah ke-33 — Jilid Ketiga — Keberanian

Pemanah Pertama dan Dorongan Nabi

Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu

Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai yang terdepan dalam memanah, dan diriwayatkan bahwa beliau adalah orang pertama yang memanah dengan anak panah di jalan Allah. Telah disebutkan dalam dua kitab Shahih bahwa Nabi ﷺ memberinya anak panah pada hari Uhud dan berkata kepadanya, “Panahlah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.” Kedua riwayat ini bersama-sama menunjukkan keunggulan, keahlian, dan kedudukan Sa'ad, tetapi tidak berarti bahwa anak panah pertama dan dorongan pada Uhud terjadi pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu, kisah ini menjaga konteks setiap peristiwa dan menyoroti bagaimana keterampilan berkembang melalui inisiatif dan kemudian dorongan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Kompetensi dibangun melalui praktik awal, dan seorang pemimpin akan semakin menguatkannya ketika melihat kesempurnaan dan secara jelas mendorongnya.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan salah satu pemanah sahabat yang paling terampil. Dia memimpin penaklukan Irak, dan dia adalah salah satu dari enam anggota Syura.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat as-Sahabah, Juz III, Bab al-Jihad wa ar-Ramy

Atribusi: Shahih al-Bukhari tentang anak panah pertama, dan Shahih al-Bukhari dan Muslim tentang perkataan Nabi ﷺ kepada Sa'ad pada hari Uhud: Panahlah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu

Status Redaksional: Sahih

Catatan: Anak panah pertama dan dorongan Nabi ﷺ kepadanya adalah sahih dalam riwayat-riwayat yang benar, tetapi keduanya adalah peristiwa terpisah dalam riwayat; tidak digabungkan di sini dalam satu adegan waktu.

Kisah ke-34 — Jilid Ketiga — Keberanian

Kesaksian untuk Sepuluh Sahabat dan Pembelaan terhadap Para Sahabat

Sa'id bin Zayd radhiyallahu 'anhu

Ketika seseorang mencela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu di hadapan Sa'id bin Zayd radhiyallahu 'anhu, Sa'id mengingkari hal itu dan mengingatkan apa yang didengarnya dari Rasulullah ﷺ tentang keutamaan sekelompok sahabatnya. Beliau menyebut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa'ad, Abdurrahman bin Auf, dan Abu Ubaidah, kemudian menjelaskan bahwa beliau adalah yang kesepuluh, dan meriwayatkan kabar gembira mereka dengan surga. Sikapnya adalah pembelaan yang didasarkan pada apa yang dihafalnya, bukan fanatisme buta, dan beliau menyatakannya dengan lantang dalam konteks yang membutuhkan tanggapan terhadap penghinaan.

Mengapa ini penting bagi kita hari ini? Adalah keberanian untuk menanggapi fitnah dengan kebenaran yang terbukti, tanpa mengubah keutamaan menjadi bahan bakar untuk permusuhan baru.

Profil Sahabat yang Disebutkan
  • Sa'id bin Zaid radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan dia adalah putra Zaid bin Amr bin Nufail. Dia menyaksikan semua peristiwa setelah Badar, dan dia dikenal karena menjauhi permintaan kepemimpinan.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu

    Abdullah bin Abi Quhafah, Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu orang yang paling awal masuk Islam. Ia menemani Nabi ﷺ dalam Hijrah, dan memegang tampuk kekhalifahan setelah wafatnya beliau.

  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu

    Khalifah kedua dari Khulafaur Rasyidin dan salah satu sahabat utama Nabi ﷺ. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, dan negara Islam meluas pada masa kekhalifahannya dengan perhatian nyata pada keadilan dan musyawarah.

  • Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu

    Khalifah Rasyidin ketiga dan termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, dijuluki Dzun Nurain karena menikahi dua putri Nabi ﷺ. Ia mempersiapkan pasukan Jaisyul Usrah dan menyatukan umat pada satu mushaf di masa kekhalifahannya.

  • Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu

    Sepupu Nabi ﷺ dan suami Fatimah radhiyallahu anha, salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Dia menyaksikan semua peristiwa kecuali Tabuk ketika Nabi ﷺ menunjuknya sebagai pengganti di Madinah.

  • Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dia menyaksikan Perang Uhud dan membela Nabi ﷺ di dalamnya, dan dia adalah salah satu dari enam anggota Syura.

  • Az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu 'anhu

    Termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan salah satu Muslim pertama, ia adalah sepupu Nabi ﷺ. Ia mengikuti berbagai peperangan dan merupakan salah satu dari enam anggota Dewan Syura.

  • Sa'ad bin Abi Waqqas radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan salah satu pemanah sahabat yang paling terampil. Dia memimpin penaklukan Irak, dan dia adalah salah satu dari enam anggota Syura.

  • Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu

    Termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan salah satu Muhajirin pertama. Dikenal karena perniagaan dan kedermawanannya, serta merupakan salah satu dari enam anggota Dewan Syura.

  • Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah radhiyallahu anhu

    Salah satu dari orang-orang yang pertama masuk Islam dan sepuluh orang yang dijamin masuk surga, dan Nabi ﷺ menamainya sebagai orang kepercayaan umat ini. Dia memimpin pasukan di Syam dan meninggal dalam wabah Amwas.

Sumber dan Derajat Riwayat

Lokasi: Hayat as-Sahabah, Juz III, Bab Fada'il as-Sahabah wa Hifzh al-Lisan

Atribusi: Sunan Abi Dawud, Jami' at-Tirmidzi, dan Musnad Ahmad dari Sa'id bin Zayd radhiyallahu 'anhu

Status Redaksional: Hasan

Catatan: Hadis tentang sepuluh sahabat adalah hasan dengan keseluruhan jalur periwayatannya, dan lafaz-lafaz riwayat, konteks majelis, dan penentuan siapa yang berbicara berbeda-beda; oleh karena itu, penyajian ini terbatas pada inti pengingkaran Sa'id dan periwayatannya tentang keutamaan.

Tiga Jilid

Jilid Pertama

Dakwah dan Membangun Jamaah

  • Dakwah kepada Allah
  • Baiat dan Kesetiaan
  • Menanggung Kesulitan
  • Hijrah
  • Pertolongan dan Perlindungan
  • Jihad dan Pengorbanan

Jilid Kedua

Persatuan Barisan dan Penyucian Hidup

  • Kesatuan Kata
  • Berinfak di Jalan Allah
  • Melawan Hawa Nafsu
  • Akhlak dan Kepribadian
  • Musyawarah di antara Mereka

Jilid Ketiga

Iman, Ibadah, dan Ilmu

  • Beriman kepada yang Gaib
  • Berkumpul untuk Salat
  • Ilmu dan Zikir
  • Doa
  • Khutbah dan Nasihat
  • Dukungan Gaib dan Sebab-sebab Pertolongan

Hayatus Sahabah (Kehidupan Para Sahabat) radhiyallahu 'anhum

Syekh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi — Jilid Pertama, Kedua, dan Ketiga — Edisi Baru yang Direvisi

Dikumpulkan, disusun, dan dikomentari oleh: Muhammad Ilyas al-Barabankwi

Baca buku dan indeksnya di Al-Maktaba Al-Shamela

Halaman ini didasarkan pada salinan terlampir dari ketiga jilid, dengan merujuk pada indeks buku di Al-Maktaba Al-Shamela. Kutipan pengantar di atas khusus untuk pengantar jilid pertama, sementara penyajian jilid-jilid tersebut merangkum bab dan tema buku di ketiga jilid.