Pengantar Buku
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna semoga tercurah kepada sosok yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, junjungan kita Muhammad bin Abdullah, yang jujur janjinya lagi terpercaya, juga kepada keluarga dan para sahabatnya yang mulia lagi diberkahi, serta kepada siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Mahasuci Engkau, ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, berilah kami manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, serta tambahkanlah kepada kami ilmu, kesantunan, dan hikmah. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, Maha Penyantun, lagi Maha Bijaksana. Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.
Selanjutnya, dengan senang hati saya persembahkan kepada pembaca yang mulia sebuah kumpulan pilihan dari perkataan-perkataan ringkas namun padat makna dari Nabi yang mulia. Saya memilihnya dari buku saya yang paling masyhur, Safwat al-Ahadith al-Nabawiyya al-Shareefa (Pilihan Hadis Nabawi), yaitu hadis-hadis yang disepakati keshahihannya oleh sejumlah imam hadis shahih. Hal ini dilakukan setelah kesuksesan yang diraih oleh buku al-Safwa tersebut, sebuah referensi ensiklopedis komprehensif yang Allah muliakan saya untuk menghimpun, menyusun, mengklasifikasikan, dan menjelaskan kata-kata sulitnya beberapa tahun silam. Buku tersebut, dengan karunia Allah, telah diterima dan disambut baik di kalangan ilmiah Arab dan Islam di seluruh dunia, karena memuat hadis-hadis nabawi terpenting dan terkuat yang tidak diragukan keshahihannya berdasarkan kesepakatan para imam hadis. Hadis-hadis tersebut adalah apa yang dibutuhkan oleh seorang Muslim dalam urusan agama dan dunianya. Dalam buku al-Safwa, saya memfokuskan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan akidah, ibadah, hukum, hikmah kenabian, motivasi dan peringatan, keutamaan, karakteristik fisik dan kepribadian Nabi, adab, ilmu, kedokteran, tafsir, berita tentang fitnah dan tanda-tanda kiamat, sifat hari kiamat, surga, neraka, serta segala hal yang bermanfaat bagi Muslim dalam agama dan dunianya, termasuk nasihat dan pelembut hati. Tujuannya adalah agar buku tersebut menjadi referensi hadis yang mudah dijangkau dan dekat di tangan para peneliti, serta menjadi kitab dokumenter yang menampilkan hadis-hadis yang disepakati keshahihannya di antara para imam hadis, dengan dibubuhi simbol-simbol para perawi utamanya, insya Allah Ta'ala.
Buku tersebut telah dipuji oleh banyak ulama, ahli hadis, dan pemikir, serta dianggap sebagai referensi hadis kontemporer yang terintegrasi karena mencakup hadis-hadis nabawi yang paling shahih dan paling kuat sanad maupun matannya. Buku ini merupakan karya yang belum pernah ada sebelumnya dalam bidang dan metodenya. Setelah cetakan keempat belas, saya melihat bahwa buku ini—meskipun memiliki urgensi dan kedudukan ilmiah sebagai referensi dan indeks lengkap hadis-hadis nabawi yang mulia bagi siapa saja yang ingin memastikan keshahihan hadis—lebih banyak diminati oleh kalangan ilmiah dan intelektual dari para penuntut ilmu, ulama, dan ahli hadis. Maka, demi memenuhi keinginan sebagian saudara kami dari kalangan ahli ilmu dan kemuliaan yang meminta ringkasan buku al-Safwa karena adanya beberapa hadis yang berulang di dalamnya—baik karena perbedaan awal kalimat, tambahan satu atau beberapa kata, atau perbedaan redaksi dari para perawi namun memiliki makna yang sama atau berdekatan—kami memutuskan untuk menghapusnya dalam buku Jawami' al-Kalim al-Nabawi ini. Hal ini bertujuan agar buku ini mudah dimiliki dan dihafal bagi mereka yang ingin menghafal. Adapun bagi mereka yang menginginkan kumpulan hadis lengkap yang tidak diragukan keshahihannya, maka hendaknya merujuk kembali ke buku Safwat al-Ahadith al-Nabawiyya al-Shareefa secara utuh. Dengan demikian, buku Jawami' al-Kalim al-Nabawi al-Sharif ini menjadi mudah diakses dan dimiliki oleh berbagai kalangan pelajar dan peneliti ilmu agama maupun dunia, guna menunjukkan keindahan hadis-hadis Nabi ﷺ, ringkasan perkataannya, serta sunnah-sunnahnya. Jika seorang mukmin, non-mukmin, maupun kritikus menelaahnya, akan tampak jelas baginya anugerah ketuhanan yang Allah berikan kepada Rasul yang ummi ﷺ, yang secara keseluruhan membentuk hadis-hadis penuh hikmah dan sangat indah. Hal itu tidak mungkin keluar kecuali dari sosok yang telah dipilih Allah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, sebagai pembenaran atas firman Sang Pencipta Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia: «Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.» Beliau ﷺ juga bersabda tentang dirinya sendiri: «Sesungguhnya aku hanyalah rahmat yang dihadiahkan.» Hadis-hadis ini menegaskan makna-makna tersebut dan selaras dengan hikmah, nilai, serta akhlak Islam dan kemanusiaan yang luhur lagi mengagumkan, yang akan dihargai dan dihormati oleh seluruh pemikir dan ilmuwan dunia yang adil dan terhormat.
Demikian pula, saya ingin mengarahkan hikmah dan keindahan ajaran Muhammad ini kepada saudara-saudara kita yang merantau di negeri asing, sebagai upaya untuk menyajikannya sebagai teks-teks Islam yang suci. Saya berharap bagi setiap orang yang mampu di antara mereka untuk mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa-bahasa hidup di negara mereka, sebagai pengantar untuk menyajikan pemikiran Islam yang raksasa sebagai risalah universal yang mengandung rahmat, cinta, dan persaudaraan bagi para penyeru koeksistensi yang berlandaskan perdamaian, keadilan, dan akhlak yang mulia.
Mengingat bahwa sunnah Rasul yang mulia ﷺ memiliki peran yang unik dan istimewa dalam membangun peradaban Arab dan Islam serta memiliki kedudukan mendasar dalam syariat Islam, maka telah datang perintah Ilahi yang tegas tentang kewajiban mematuhi ajaran al-Mustafa ﷺ. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam wahyu-Nya yang kokoh: «Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.» Allah Azza wa Jalla juga mengistimewakan beliau dengan firman-Nya: «Dan sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,» serta firman-Nya kepada orang-orang beriman: «Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.»
Selain itu, Sang Pencipta Azza wa Jalla telah memerintahkan Rasul-Nya yang mulia ﷺ untuk menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya melalui firman-Nya: «Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.» Dalam ayat-ayat lain, Allah Yang Mahabenar lagi Mahatinggi menjelaskan bahwa Dia menurunkan al-Dhikr yang penuh hikmah kepada Rasul-Nya yang mulia agar beliau menerangkan dan menjelaskannya kepada manusia melalui firman-Nya: «Dan Kami turunkan kepadamu al-Dhikr (Al-Qur'an), agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.» Allah Yang Mahabenar lagi Mahaberkah menegaskan bahwa salah satu sifat mukmin yang paling menonjol adalah patuh pada apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya melalui firman-Nya dalam wahyu yang kokoh: «Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.» Dia Subhanahu wa Ta'ala juga menegaskan bahwa Rasul yang mulia ﷺ tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, melainkan berdasarkan arahan wahyu Ilahi melalui firman-Nya: «Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya.» Dia juga memerintahkan orang-orang beriman untuk menaatinya dan menyandingkan ketaatan kepada Rasul ﷺ dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, di mana Dia berfirman: «Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.» Terdapat banyak ayat lain yang mendorong Muslim untuk mengikuti ajaran Rasul ﷺ, menjauhi larangannya, dan berpegang teguh pada sunnahnya.
Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur'an al-Karim adalah sumber pertama syariat Islam, dan sunnah Nabi ﷺ baik berupa perkataan maupun perbuatan adalah sumber kedua. Sunnah adalah penjelas bagi hukum-hukum Al-Qur'an al-Karim yang mengkhususkan hal yang umum, membatasi hal yang mutlak, atau menafsirkan hal yang global. Bahkan, sunnah dapat berdiri sendiri dalam mensyariatkan perkara-perkara yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an sama sekali. Karena kedudukan inilah, para ulama dan imam umat memberikan perhatian yang sangat besar terhadapnya. Mereka mencurahkan segala hal yang berharga untuk menghimpun dan memverifikasinya, serta berkreasi dalam mengumpulkan hadis nabawi dan menyusunnya sesuai dengan maksud dan tujuan mereka, melakukan perjalanan jauh demi mendapatkannya, serta menyibukkan diri dengan pembukuan dan pengklasifikasiannya.
Hal ini dimulai dengan upaya para sahabat mulia dalam menghafal hadis mulia di dalam dada mereka dan menyimpannya di lubuk hati yang paling dalam. Mereka berlomba-lomba untuk menghafal dan memastikannya, karena pada awalnya Rasulullah yang mulia ﷺ melarang mereka menulisnya pada masa-masa awal dakwah, lantaran khawatir akan bercampur dengan Al-Qur'an yang mulia. Setelah itu, beliau ﷺ mengizinkan penulisan bagi sebagian sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Abu Syah, dan Jabir bin Abdullah —semoga Allah meridai mereka—, kemudian bagi Abdullah bin Amr bin al-Ash —semoga Allah meridai keduanya—, setelah beberapa sahabat berkata kepadanya ketika melihatnya menulis segala sesuatu yang keluar dari Rasulullah ﷺ: 'Apakah engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah, padahal Rasulullah adalah manusia yang berbicara dalam keadaan marah maupun rida?' Hal itu kemudian diceritakan kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda kepadanya: 'Tulislah, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar darinya —seraya menunjuk ke mulut beliau— kecuali kebenaran.' Hal ini ditegaskan oleh Abu Hurairah dengan perkataannya: 'Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi yang lebih banyak hadisnya dariku kecuali Abdullah bin Amr, karena dia menulis sedangkan aku tidak menulis.' Tulisan Abdullah bin Amr bin al-Ash ini menjadi masyhur di kalangan sahabat dan mereka menamakannya ash-Shahifah ash-Shadiqah. Semua itu merupakan bukti perhatian para sahabat mulia —semoga Allah meridai mereka— dan antusiasme mereka untuk menghafal perkataan dan perbuatan Rasulullah yang mulia ﷺ di luar kepala, hingga mereka menjadikannya sebagai manhaj praktis dan sunah nyata bagi mereka dalam setiap urusan besar maupun kecil. Hal ini didukung oleh daya hafal mereka yang kuat dan hati mereka yang bersih, di samping adanya sejumlah sahabat yang menulis banyak hadis, sehingga masyarakat sahabat di Madinah al-Munawwarah membentuk gambaran sempurna dari masyarakat Islam pertama yang berpegang teguh pada sunah yang mulia. Semua itu kemudian berpindah bersama para sahabat —semoga Allah meridai mereka— ke masyarakat tabiin, di mana para perawi besar dari kalangan tabiin menukil harta karun yang agung dan simpanan yang berharga ini kepada generasi-generasi setelah mereka.
Ketika Islam tersebar luas, negara Islam semakin luas, dan para sahabat berpencar ke berbagai negeri, timbullah kebutuhan untuk membukukan hadis dalam kitab-kitab yang tersusun rapi dan terpadu. Di antara orang pertama yang menaruh perhatian pada masalah ini adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang mengeluarkan perintah kepada para gubernurnya dan para ulama di berbagai negeri untuk membukukan dan mengumpulkan hadis. Orang pertama yang melaksanakan hal itu adalah Ibnu Syihab az-Zuhri (wafat 124 Hijriah), Ibnu Ishaq (wafat 151 Hijriah), dan Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 Hijriah). Di antara kitab paling masyhur yang sampai kepada kita dari masa itu adalah al-Muwaththa karya Imam Malik (93-179 Hijriah), kemudian Mushannaf Abdurrazzaq (wafat 211 Hijriah), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (wafat 235 Hijriah), dan lain-lain. Kemudian masuklah fase baru dari fase-fase penyusunan hadis mulia, di mana ada di antara mereka yang mengumpulkan semua yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ sehingga mereka menyusun al-Masanid, yaitu kitab-kitab yang menghimpun hadis-hadis Rasulullah ﷺ dengan sanad-sanadnya tanpa membedakan antara yang sahih dan selainnya. Di antara orang pertama yang menyusun al-Masanid adalah Imam Ahmad (lahir 164 dan wafat 241 Hijriah), Utsman bin Abi Syaibah (156-239 Hijriah), dan lain-lain. Ada pula yang mengkhususkan pengumpulan hadis sahih saja tanpa yang lemah, dan orang pertama yang menyusun dengan metode ini adalah Imam al-Bukhari (wafat 256 Hijriah), kemudian Imam Muslim (wafat 261 Hijriah). Langkah mereka diikuti oleh sejumlah imam terkemuka, hingga kemudian karya-karya hadis tersebar luas dalam segala bentuk dan coraknya, yang di dalamnya terdapat al-Masanid, ash-Shihah, as-Sunan, al-Mustadrakat, al-Mustakhrajat, kemudian al-Jawami', dan kitab-kitab hadis serta musthalah lainnya dengan berbagai jenis dan tingkatannya. Secara keseluruhan, kitab-kitab tersebut kemudian menjadi cikal bakal ilmu hadis, baik secara riwayat maupun dirayat.
Belum pernah sampai kepada kami bahwa ada suatu ilmu dalam sejarah yang mendapatkan keistimewaan berupa persambungan sanad melalui para perawi yang tepercaya, adil, dan kuat hafalannya, sebagaimana kedudukan agung yang diperoleh sunah nabawiyah ini. Para ulama dan imam umat ini telah memberikan perhatian yang luar biasa, hingga mereka mampu membentuk perpustakaan raksasa yang jarang ada tandingannya dalam sejarah. Mereka sangat mahir dalam mengumpulkan dan menyusun hadis nabawi, yang mana hal itu telah dimulai sejak hari-hari pertama dakwah kenabian. Ratusan kitab hadis telah sampai kepada kita, dan sebagian besar kitab ini memuat hadis sahih, hasan, lemah, dan sebagian hadis palsu.
Saya tidak menyembunyikan dari Anda sekalian bahwa sejak awal kehidupan intelektual saya, hobi favorit saya adalah membaca dan mempelajari kitab-kitab sunah dan hadis. Sering kali saya mendapati diri saya dalam puncak kebahagiaan dan kegembiraan saat saya mengkaji, memastikan, dan menganalisis hadis-hadis al-Musthafa ﷺ. Namun, yang mengusik kebahagiaan dan kegembiraan saya adalah keberadaan beberapa hadis yang problematik yang tidak selaras dengan tujuan-tujuan syariat yang mulia. Sering kali saya menuntut para ulama dan ahli hadis agar mereka menyuguhkan kepada kita satu kitab yang menghimpun di antara dua sampulnya hadis-hadis nabawi sahih yang paling penting dan paling kuat, yang dibutuhkan oleh seorang Muslim dalam urusan agama dan dunianya. Hal itu dikarenakan seorang penuntut ilmu yang mencari suatu hadis di berbagai kitab hadis yang berbeda sering kali mendapati dirinya di hadapan kumpulan hadis yang sangat besar jumlahnya, melampaui seratus ribu hadis, yang mana pendapat para imam berbeda-beda mengenai derajat kesahihan atau kelemahan masing-masing hadis tersebut. Saya pun bertanya-tanya dalam hati; bagaimana mungkin seorang Muslim dapat menelaah sumber terpenting kedua bagi syariatnya di antara puluhan ribu hadis yang membuat para spesialis pun tersesat di lautan luasnya......?!
Hal inilah yang mendorong saya untuk mempelajari kembali kitab-kitab hadis masyhur yang paling penting, baik secara riwayat maupun dirayat. Saya melanjutkan penelitian sederhana saya hingga saya menemukan bahwa ada segelintir ahli hadis yang mensyaratkan kesahihan dalam kitab-kitab mereka dan menetapkan syarat-syarat serta kaidah-kaidah untuk menerima hadis. Yang terpenting di antara mereka adalah yang disebutkan oleh Imam as-Suyuthi dalam mukadimah kitabnya al-Jami' al-Kabir, di mana beliau mengisyaratkan bahwa kitab-kitab mereka (diberi tanda sebagai sahih). Makna ini ditegaskan pula oleh kakek saya, al-Imam al-Muhaddits Muhammad bin Ja'far al-Kattani dalam kitabnya ar-Risalah al-Mustathrafah fi Bayan Masyhur Kutub as-Sunnah al-Musyarrafah, beliau berkata: 'Dan di antaranya adalah kitab-kitab yang penyusunnya berkomitmen pada kesahihan di dalamnya.' Para imam ini telah mencurahkan segala yang berharga dari waktu, harta, dan tenaga mereka untuk memastikan kesahihan setiap hal yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ. Sebagian besar imam hadis telah sepakat untuk membagi hadis nabawi menjadi tiga jenis utama, yaitu:
Sahih, Hasan, dan Lemah. Berikut adalah rinciannya:
Pertama: Hadis sahih adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan kuat hafalannya dari perawi yang adil dan kuat hafalannya pula sampai akhir sanadnya, dan ia terbagi menjadi tiga bagian:
Hadis Mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari sekelompok orang lainnya yang mustahil bagi mereka untuk bersepakat dalam kebohongan.
Hadis Masyhur, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sekurang-kurangnya tiga orang perawi yang tepercaya.
Hadis Ahad, yaitu hadis sahih yang diriwayatkan secara tunggal oleh satu orang perawi yang tepercaya.
Kedua: Hadis Hasan, yaitu hadis yang mengandung sifat-sifat penerimaan pada tingkat yang paling rendah.
Ketiga: Hadis Daif, yaitu hadis yang tidak mengandung satu pun dari sifat-sifat penerimaan, dan hadis ini terbagi menjadi banyak jenis.
Adapun hadis-hadis Qudsi, yaitu hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah ﷺ dari Allah Sang Pencipta Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Hadis-hadis ini, sebagaimana hadis-hadis nabawi lainnya, ada yang berstatus sahih, hasan, daif, dan sebagian ada yang palsu.
Berdasarkan studi hadis yang mendalam ini, saya memfokuskan dalam buku pertama saya, Safwat al-Ahadith al-Nabawiyya (Pilihan Hadis Nabawi), pada hadis-hadis yang disepakati keshahihannya oleh sejumlah imam hadis sahih. Ketika sebuah hadis ditandai dengan takhrij dari sejumlah imam hadis sahih yang berbeda pemikiran, tempat, dan zamannya, hal ini berarti masing-masing dari mereka telah mengerahkan segala kemampuan untuk memastikan keabsahan penisbatannya kepada Rasul yang mulia, semoga selawat dan salam tercurah kepadanya. Hal ini memberikan dimensi intelektual, geografis, dan historis bagi pendokumentasiannya, sehingga mengangkat hadis-hadis dalam Safwat al-Ahadith ke derajat keyakinan yang pasti akan kebenaran penisbatannya kepada Rasul yang mulia ﷺ. Sebab, tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesalahan, kelalaian, atau dapat disusupi secara kolektif. Sebagai contoh, ketika kita mengetahui bahwa hadis mulia yang berbunyi: «Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya» telah dicantumkan oleh lebih dari sepuluh imam besar hadis sahih, maka hal ini mendorong kita untuk memastikan bahwa hadis tersebut termasuk dalam tingkatan hadis yang paling sahih.
Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kepercayaan kita terhadap keshahihan suatu hadis akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah imam hadis yang meriwayatkannya dalam kitab-kitab shahih mereka. Maka, lahirlah pilihan hadis yang luar biasa ini, yang keshahihannya telah disepakati oleh sejumlah imam kitab shahih. Jumlahnya mencapai sekitar empat ribu hadis yang mencakup berbagai cabang syariat yang mulia, mulai dari akidah, ibadah, muamalah, hukum pidana, adab, akhlak, administrasi, dan lain sebagainya. Seluruh hadis tersebut tidak ada yang bertentangan dengan Al-Qur'an Al-Karim, tujuan-tujuan dasar dan prinsip tetap syariat yang mulia, maupun ilmu pengetahuan yang bersifat pasti kebenarannya.
Saya telah mencantumkan tanda-tanda para imam berdasarkan urutan kronologis masa hidup mereka dalam buku saya ini. Berikut saya sajikan simbol-simbol terpenting yang saya pilih untuk para imam hadis—semoga Allah meridai mereka—yang telah disepakati oleh mayoritas imam hadis, yaitu:
(Kha) untuk al-Bukhari, (Mim) untuk Muslim, (Qaf) untuk hadis yang disepakati oleh keduanya, (Dal) untuk Abu Dawud, (Ta) untuk at-Tirmidzi, (Nun) untuk an-Nasa'i, (Ha) untuk Ibnu Majah, (Al-Arba'ah) untuk keempat imam tersebut, (At-Tsalatsah) untuk mereka selain Ibnu Majah, (Ham) untuk Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, (Am) untuk tambahan dari putranya, Abdullah, (Kaf) untuk al-Hakim dalam al-Mustadrak, (Hub) untuk Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, (Khaz) untuk Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, (Thab), (Thas), (Thash) untuk ath-Thabarani dalam al-Mu'jam al-Kabir, al-Awsath, dan ash-Shaghir, (Shad) untuk Sa'id bin Manshur dalam Sunan-nya, (Khad) untuk al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, (Takh) untuk al-Bukhari dalam at-Tarikh, (Dhad) untuk ad-Diya' al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah, (Fa'i) untuk asy-Syafi'i dalam Musnad-nya, (Syin) untuk Ibnu Abi Syaibah dalam al-Musnad al-Mushannaf, (Ab) untuk Abdurrazzaq dalam al-Jami' al-Mushannaf, (Ain) untuk Abu Ya'la dalam Musnad-nya, (Qath) untuk ad-Daraquthni dalam as-Sunan dan al-Afrad, (Far) untuk ad-Dailami dalam al-Firdaus, (Hal) untuk Abu Nu'aim dalam al-Hilyah, (Hab, Haq) untuk al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman, as-Sunan, al-Ma'rifah, Dala'il an-Nubuwwah, serta al-Asma' wa ash-Shifat, (Ad) untuk Ibnu Adi dalam al-Kamil, (Aq) untuk al-Uqaili dalam adh-Dhu'afa', (Khath) untuk al-Khathib dalam al-Jami' dan at-Tarikh, (Mi) untuk ad-Darimi dalam Sunan-nya, (Tha) untuk ath-Thayalisi dalam Musnad-nya, (Kar) untuk Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, (Baz) untuk al-Bazzar dalam Sunan-nya.
Saya telah memilih mahakarya hadis-hadis nabawi ini dari buku saya, Pilihan Hadis Nabawi yang Mulia, dan saya menamakannya Kumpulan Perkataan Mulia Nabi. Di dalamnya terdapat inti dari pilihan dan puncak keindahan hadis yang menegaskan keagungan Rasul yang mulia ﷺ, kebijaksanaan, ilmu, sifat universal, kesantunan, keberanian, serta perlawanan beliau terhadap kezaliman dan orang-orang zalim, serta upaya beliau dalam menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, agar menjadi pelita bagi anak-anak kita dan bagi seluruh umat.
Saya benar-benar berharap kepada Allah agar saya telah mempersembahkan sebuah karya besar bagi Islam yang agung secara umum dan bagi Sunnah Nabawiyyah yang mulia secara khusus; sebuah karya yang dengan izin Allah dapat berkontribusi dalam menyatukan barisan kaum muslimin, serta mendekatkan Islam dengan spiritualitasnya yang abadi ke dalam hati para terpelajar dan pemikiran para pemikir yang mulia di seluruh penjuru bumi. Allah senantiasa berfirman dengan kebenaran dan Dialah yang menunjukkan jalan yang lurus. Segala puji bagi Allah yang telah berfirman: Dan di atas setiap orang yang berilmu ada Yang Maha Mengetahui. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya senantiasa tercurah kepada kalian.
Profesor Dr. Abd al-Qadir al-Makki al-Kattani
Konsultan dan Profesor Teknik serta Studi Islam Tingkat Tinggi
Rasulullah ﷺ bersabda: «Semoga Allah memberi cahaya/kebaikan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya; karena bisa jadi orang yang diberi kabar itu lebih paham daripada yang mendengar.»